Jati Diri Bukan Dicari, Tapi Dipahami

Menjadi diri kita adalah hal yang fundamental. Namun banyak dari kita memilih untuk melihat dari sisi “luar” saja, tanpa benar-benar pernah memahami atau bahkan mempertanyakannya.

“The most important kind of freedom is to be who you really are.”
Photo by Sage Friedman on Unsplash

Siapakah kamu?

Mari bayangkan sebuah skenario. Saat kamu hendak memperkenalkan diri di sebuah lingkungan kerja baru, secara naluriah dan tanpa banyak berpikir kamu akan memberikan nama, usia, latar belakang, pekerjaan dan hobimu, mungkin bagimu ini sudah cukup untuk mendefinisikan “dirimu”.

Lalu, siapa dirimu yang sebenarnya?

Pikirkan sejenak, saat kamu sendirian, merefleksi kembali pertanyaan ini, apakah kamu benar-benar tahu jawabannya?

Menurut saya jati diri bukan dicari, namun dipahami.

Banyak orang melakukan perjalanan “pencarian jati diri” tanpa benar-benar memahami diri mereka. Hasilnya, sebagian dapat “menemukan” jati diri mereka (dengan rentang waktu yang berbeda-beda), namun sebagian lain merasa tak kunjung sampai pada tujuannya, bahkan hingga akhir hayatnya. Mereka hidup tanpa benar-benar memahami siapa diri mereka sebenarnya. Layaknya sebuah “ikan tak bernyawa” yang hanya mengikuti arus lautan, mengapung kemanapun dibawanya.

Apakah jati diri dapat hilang dan pergi?

Sebagian dari kita merasa dapat menemukan jati diri beberapa kali dalam hidup, kita berpikir bahwa jati diri kita saat masih berusia 17 tahun dan 35 tahun akan berbeda. Pasti kamu juga pernah mendengar istilah orang yang ‘kehilangan jati diri’. Lalu, apakah masih bisa dikatakan sejati apabila ia dapat berubah-ubah, hilang dan pergi?

“Can you remember who you were, before the world told you who you should be?” — Charles Bukowski

Mengapa penting untuk memahami diri kita sebenarnya?

Setiap orang itu unik (kecuali kamu bisa mengkloning dirimu sendiri), maka jati dirimu yang sebenarnya tidak dapat dikotak-kotakkan oleh label apa pun. Memahami diri kita menjadi penting untuk dapat benar-benar “menjalani hidup”, bukan hanya “memainkan peran” dalam hidup ini.

“The privilege of a lifetime is to become who you really are.” Carl Jung

Memahami jati diri adalah proses seumur hidup.

Ketika saya masih SD, saya tidak benar-benar tahu siapa diri saya, apa yang saya perjuangkan, nilai apa yang saya pegang, apa tujuan hidup saya dan lain sebagainya. Saat lulus kuliah, saya mulai bisa memahami hal tersebut sedikit demi sedikit. Pemahaman jati diri secara kongruen ini berpengaruh terhadap hidup saya, bagaimana saya bertindak dan berinteraksi dengan orang lain. Tentu ada kalanya saya terjatuh, salah, kalah dan gagal. Namun hal terbaik dari semua itu adalah, saya tidak perlu menyalahkan keadaan (apalagi orang lain), karena saya telah lebih jujur terhadap diri sendiri. Kegagalan saya adalah karena pemahaman diri saya yang belum sempurna. Saya hanya perlu terus belajar lagi dan lagi.

“Knowing yourself is the beginning of all wisdom.” — Aristotle

Saat kita dapat memahami diri sendiri dan memutuskan untuk menampilkan diri otentik kita yang tidak sempurna ini pada dunia, kita menerima bagian diri kita yang sesungguhnya, sehingga dari situlah kita dapat terus menerus belajar dan berkembang untuk menjadi manusia yang lebih berguna. Kebenaran diri lah yang akan menulis “cerita asli” hidup kita — alih-alih didikte atau dituliskan oleh orang lain. Pada masanya, cerita ini tak hanya akan tertinggal sebagai memori yang akan sirna dan terlupakan saat kita telah tiada, melainkan sebagai bukti nyata bahwa kita, sebagai diri kita yang sebenar-benarnya, dapat memberi pengaruh kepada dunia.

Passionate writer. Self-taught entrepreneur. A curious soul striving for personal growth. Sign up free for more insights: bit.ly/thecuriositymagnet

Passionate writer. Self-taught entrepreneur. A curious soul striving for personal growth. Sign up free for more insights: bit.ly/thecuriositymagnet